Selasa, 09 Juli 2013

Bengawan Solo

Wilayah Sungai / WS Bengawan Solo
Bengawan Solo adalah sungai terpanjang di pulau Jawa yang mempunyai panjang sekitar 548 km yang memanjang dari hulu di Wonogiri sampai hilirnya di pantai utara jawa tepatnya di daerah Gresik. Pada awal pembentukannya, Bengawan Solo merupakan sungai yang mengalir menuju pantai selatan Jawa.
Namun karena terjadi pengangkatan Southern Mountains akibat pertemuan lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia, alirannya berbalik ke utara.
         Wilayah Sungai Bengawan Solo, terletak di Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Timur yang berada pada 110o 18’ BT— 112o 45’ BT dan 6o 49’ LS— 8o 08’ LS.
Berdasarkan wilayah administrasi, DAS Solo mencakup 2 provinsi dan 16 kabupaten, yaitu Provinsi Jawa Tengah dengan 8 kabupaten: Wonogiri, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Klaten, Boyolali, Blora dan sebagian kecil Salatiga serta Provinsi Jawa Timur dengan 8 kabupaten: Madiun, Ngawi, Pacitan, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Ponorogo dan Magetan.
Ketersediaan air di WS ini sebesar + 18,61 milyar m3.  Jumlah penduduk di WS Bengawan Solo berjumlah 16,03 juta jiwa (2005),dengan kepadatan 755 jiwa/km2. WS Bengawan Solo merupakan daerah yang beriklim tropis, dimana musim kemarau terjadi sekitar bulan Mei – Oktober sedangkan musim hujan terjadi pada bulan Nopember – April, dengan kelembaban rata-rata 80%, suhu bulanan rata-rata 26,7°C, lama penyinaran rata-rata bulanan 6,3 jam, kecepatan angin rata-rata bulanan 1,2 m/det.
Berdasarkan Permen PU No.11A Tahun 2006, WS Bengawan Solo merupakan WS lintas provinsi (Jawa Tengah dan Jawa Timur) yang kewenangan pengelolaannya berada di Pemerintah Pusat. Luas total WS Bengawan Solo sekitar 19.783 km2, terdiri dari 4 DAS :
1.        DAS Bengawan Solo seluas 16.100 km2
2.        DAS Kali Grindulu, K. Teleng dan K. Lorog seluas 1.522 km2
3.        DAS kecil di kawasan pantai utara Jawa Timur (DAS K. Semawun, K.Goneng, K. Wungu,  K. Sondang) seluas 1.441 km2
4.        DAS Kali Lamong seluas 720 km2

 Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa (600 km) yang mengalir dari Peg. Sewu di Barat-Selatan Surakarta ke Laut Jawa di utara Surabaya, dengan luas DAS 16.100 km2, yang terdiri atas :
1.    Sub DAS Bengawan Solo Hulu (6.702 km2)
2.    Sub DAS Bengawan Solo Hilir (6.273 km2)
3.    Sub DAS Kali Madiun (3.755 km2)
KONDISI LINGKUNGAAN
Wilayah Administrasi : meliputi  wilayah  Kabupaten  Klaten,  Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Boyolali, Kota Surakarta dan Kabupaten Blora.
Iklim  : SWS Solo di Jawa Tengah termasuk dalam daerah tropis dengan tipe ikiim menurut Koppen sebagian besar adalah Am. Suhu rata-rata bulanan diatas 27,4 °C, kelembaban udara rata-rata sekitar 66%, lama penyinaran matahari selama 10,8 jam/hari, kecepatan angin rata-rata 1,4 m/detik dan evapotranspirasi rata-rata sekitar 4,3 mm/hari.
Tanah : Oleh perbedaan faktor-faktor lingkungan pembentukan tanah (iklim, vegetasi, topografi, batuan, dan waktu) akan menimbulkan perbedaan sifat dan jenis tanah yang terbentuk. Jenis-jenis tanah yang ada di daerah penelitian adalah: (1) Regosol (Tropopsamments); (2) Kambisol (Eutropepts); (3) Aluvial (Udipfluvents); (4) Latosol, (Haplustults);            (5)Litosol (Ustorthents);         (6)  Vertisol     (Haplusterts); (7) Mediteran (Haplustalfs); (8) Rendsina (Haprendolls); (9) Andosol (Hapludands.
Geomorfologi : Berdasarkan interpretasi peta topografi, citra landsat, pate geologi, dan kerja lapangan dapat ditentukan bahwa bentukiahan mayor yang ada di daerah penelitian adalah: (a) bentukan asal volkan yang dibedakan lereng atas, lereng bawah, dataran kaki, dataran fluvial volkan dari Gunung Merapi, Gunung Merbabu. Gunung Lawu; (b) perbukitan pegunungan denudasional batuan pasir, tuf dan breksi; (c) perbukitan pegunungan karst batuan ,gamping; (d) perbukitan struktural batuan lempung, tufa gampingan den pasir gampingan; (e) bentukan asal fluvial yang dibedakan menjadi dataran eluvial, dataran banjir, dan dataran kaki koluvia-aluvial
Hidrologi : Kondisi hidrologi SWS Bengawan Solo sang at ditentukan oleh kondisi hujan dan kondisi fisik pad a setiap Sub DAS yang masuk ke dalam SWS Solo di Jawa Tengah. Pengukuran debit sungai di tiga lokasi sepanjang sungai Solo yang ada di jawa Tengah adalah di Stasiun IBendungan Waduk Gadjah Mungkur, Stasiun Jurug, dan Stasiun Kajangan. Darii hasil pengamatan selama tahun 1975-1999 variasi debit sungai di atas waduk Gadjah Mungkur adalah 21.1 m3/detik (pada bulan Juni)  hingga 46,5 m3/detik (pada bulan Februari); di stasiun Jurug, Solo debit sungai Solo juga menunjukkan varlasi yangcukup tajam yatu antara 19 m3/detik (bulan Agustus) hingga 221 m3'cletik (bulan Februan); sedangkan di stasiun Kajangan debit sungai Solo befvariasi antara 29 /detik(bulan  Agustus)  dan 581  m3/detik  (bulan Februari).Bila ditinjau dari keseluruhan sumberdaya air pennukaan yang tersedia di DAS Solo, maka SWS Solo Jawa Tengah mencapai 581 mr/tahun atau sekitar  3.527 juta m3/tahun atau sekitar 45%.
PEMANFAATAN SWS BENGAWAN SOLO
Berupa rangkaian program kegiatan  pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang SWS menurut masing- masing   wilayah   dan   sektor   tertentu.   Kegiatan   berupa   penyusunan program/proyek dan pembiayaan, pemanfaatan sesuai rencana, perundang-undangan  pendukung,  dll.  Oalam  tahap  pemanfaatan,  tercermin  dinamika  pemanfaatan ruang SWS, antara.lain perubahan nilai sosial, nilai tanah dan          sumberdaya alam, perubahan status hukum, dampak terhadap lingkungan , perkembangan wilayah.
PERMASALAHAN
Beberapa permasalahan di WS Bengawan Solo :
1.        Pertambahan penduduk yang tinggi yang menyebabkan tingginya tekanan pada lingkungan.
2.        Bertambahnya  aktivitas  pembangunan  yang  cenderung menyumbang lingkungan alamiahnya.
3.        Gunung dan bukit yang gundul menyebabkan erosi, longsor clan banjir serta sedimentasi di bagian bawah.
4.        Kondisi daerah resapan hilang atau berkurang fungsinya.
5.        Banyaknya limbah-Imbah dan industri, kendaraan, peternakan, domestik, pertanian dan lain sebagainya.

Persediaan air di SWS Bengawan Solo) adalah 18.777 juta m3ltahun dengan pemakaian air sebesar 6.932 juta m3/tahun.  t3erarti ada kelebihan air sebesar 11.842 juta m3ltahun.  Meskipun ketersediaan air cukup melimpah tidak berarti tidak ada masalah, tetapi masalah kualitas dan manajemen sumber air tetap menjadi masalah besar.            Hasil ivaluasi pelaksanaan Prokasih di DAS  Bengawan Solo menunjukkan adanya penurunan beban pencemaran air limbah yang cukup tajam.
Hasil Pelaksanaan Prokasih di DAS Bengawan Solo
                        
No
Parameter
Kondisi Th 1939
(dalam kg/th)
Kondisi Th  2000
(dalam kg/th)
1.
BOD
68.370.940
2.497.934,20
2.
COD
101.646.419
7.452.928,07
3.
TSS
9.239.016
1.143.138,06
Sumber Bappedal Jawa Tengah (2002).
       Namun dari hasil pemantauan dan evaluasi kondisi kulaitas air sungai Bengawan  Solo  mash  belum  menunjukkan  kualitas  yang  sesuai  dengan peruntukkannya.   Hal tersebut disebabkan oleh sasaran dari Prokasih hanyalah industri berskala besar/menengah, sedangkan konisi kualitas air sungai Bengawan Solo sangat dipengaruhi pula oleh limbah dari rumah sakit, hotel, rumah tangga, pertaian, petemakan, erosi dan fluktuasi debit air sungai antara musim hujan dan musim kemarau yang cukup besar.
Konflik Pemanfaatan Sumberdaya Air
Permasalahan   yang   paling   mendasar   dalam   upaya   pengeiolaan sumberdaya air secara terpadu adalah bahwa tedaclinya gejala krisis air di beberapa wilayah di Indonesia telah mulai dirasakan, lebih-lebih di era otonomi daerah. Krisis air tidaklah dalam hal kuantitas saja, kualitasnyapun kini menjadi masalah.  Pulau Jawa pada dewasa ini dihadapkan pada berbagai masalah dengan menurunnya kualitas air akibat limbah yang dihasilkan kegiatan industri, pertanian, dan limbah perkotaan,  termasuk  limbah  rumah  tangga            (Anonim, 1999).          Permasalahan pencemaran air sungai Bengawan Solo di Jawa Tengah oleh berbagai kegiatan di sepanjang kanan-kin sungai di Jawa Tengah menunjukkan bahwa kualitas sungai Bengawan Solo telah mengalami penurunan kualitasair hingga tidak memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan peruntukannya sebagai air baku air minum (Golongan II/B) di wilayah hulu Kabupaten Wonogiri hingga perbatasan Kabupaten Sukoharjo dan di wilayah Kecamatan Cepu Kabupaten Blora serta air untuk kegiatan perikanan (Golongan III/C) dad perbatasan antara Kabupaten Wonogiri dengan Sukohado hingga perbatasan Jawa Timur.Hal tersebut disebabkan karena pertumbuhan dan pengembangan industri, hotel, rumah sakit, industri kecillrumah tangga, limbah pertanian dan petemakan   yang membuang limbah ke sungai, meskipun telah dibangun IPAL (Instalasi Pengoiah Air Limbah).

PENGELOLAAN
Sistem Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pengelolaan SWS Begawan Solo di lakukan lima strategi utama, yaitu strategi peningkatan kemampuan kelembagaan, penataan ruang, penyelamatan tanah, hutan, dan air, pemberdayaan masyarakat, dan Partisipasi dan kemitraan.
Strategi Peningkatan Kemampuan kelembagaan Pengelolaan SWS :
1.      Peningkatan Kemampuan Sumberdaya Manusia,
2.      Inventarisasi dan evaluasi sumberdaya dan lingkungan,
3.      Studi perencanaan pengelolaan SWS,
4.      Badan koordinasi pengelolaan SWS Begawan Solo
5.      Regulasi dan pengaturan kelembagaan perundang-undangan pengelolaan SWS


Strategi Penataan Ruang
1.      Pemantapan tata ruang, rungsi findung,
2.      Dukungan perundang-undangan dan sangsl.
3.      Mengurangi konflik pemanfaatan ruang,
Strategi Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air
1.      Konservalsl reboisasi kawasan hutan, khususnya hutan lindung,
2.      Rehabifitasi lahan kritis,
3.      Mempertahankan fungsi daerah resapan,
4.      Penanggulangan pencemaran air
5.      Polusi Udara
Program Strategis Pengelolaan SWS Begawan Solo Secara umum, strategi dan program-program pembangunan dalam grand design SWS Begawan Solo tersusun kedalam rentang waktu perencanaan 15 (sepuluh) tahun, yang terbagi kedalam dua tahapan.

DAFTAR PUSTAKA

Sudibyakto 2005. .Analisis Konflik Pemanfaatan Sumberdaya Air Melalui Program Prokasih Di Daerah Aliran Bengawan . Yogyakarta : UGM
Woro, Suratman; Sudibyakto; dan Suyono.Penyusunan Rencana Induk (Grand Design) Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kasus : SWS Bengawan Solo. Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar